Penyesalan Sally

PERSAHABATAN MENJADI CINTA. Vino berulang kali membaca kalimat yang ia tulis di buku hariannya. Persahabatannya dengan Sally temannya sejak kecil,  membuat Vino menganggap Sally lebih dari seorang sahabat. Keinginannya untuk mengungkapkan perasaan kepada Sally selalu disimpan dalam hati. Selama ini, Vino selalu berada disamping Sally sebagai seorang sahabat. Menemani disaat sepi, membantu disaat susah, dan menghibur disaat sedih. Hubungan mereka sangat dekat, akan tetapi Vino tidak tahu bagaimana perasaan Sally terhadapnya.

Suatu hari, Sally menemui Vino dengan wajah berseri-seri. Dengan senyumannya yang khas ia berkata, “Vino, aku jatuh cinta”. Vino terkejut. Dengan mata berkaca-kaca, Sally mengenggam tangan Vino, lalu ia melanjutkan pembicaraannya, “Vin, Ervan membalas perasaanku.”. Vino terdiam dan tersadar, ia bukan pria pilihan Sally. Selama ini dimata Sally, Vino hanyalah seorang sahabat. Hati Vino hancur, tapi ia harus tetap tersenyum dan senang sebagai seorang sahabat.

Hari demi hari berlalu, Vino merasa Sally semakin menjauh darinya. Suatu hari, hubungan Sally dan Ervan sedang dilanda masalah. Sally kesepian, ia butuh seseorang untuk menemaninya. Tiba-tiba ia teringat Vino, Sally segera pergi untuk menemui Vino. Sally terkejut melihat bendera kuning yang terpasang dipagar rumah Vino. Tubuhnya mendadak lemas ketika melihat nama Vino tertulis di bendera itu. Sally mengumpulkan tenaganya untuk masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Vino sudah terbaring dengan terbungkus kain kavan dan ditutupi kain. Sally menangis histeris melihat sahabatnya. Ibu Vino memeluk Sally, kemudian ia memberikan secarik kertas dan sebuah buku harian. Sally hanya terdiam dengan tubuh gemetar.

Sepulang dari upacara pemakaman, Sally menuju ke taman tempat Sally dan Vino sering menghabiskan waktu bersama. Sally mengambil kertas yang diberikan Ibu Vino, dan ia terkejut membaca kalimat yang tertulis di kertas itu. Hanya satu kalimat tetapi mengandung arti. PERSAHABATAN MENJADI CINTA. Dengan tangan gemetar, ia mulai membaca buku harian itu. Ia tidak tahu selama ini Vino menderita leukemia. Di buku itu, Vino menceritakan bagaimana ia berjuang melawan penyakitnya. Sally menangis histeris ketika mengetahui Vino menganggapnya lebih dari teman. Vino selalu menghibur Sally meskipun saat itu ia benar-benar sakit. Akan tetapi, Saly menjauh disaat ia menemukan cintanya. Sally sadar betapa tulusnya hati Vino. Kini Vino telah meninggalkan Sally untuk selamanya. Tiada lagi canda tawa Vino. Sally hanya bisa menangis dengan 1001 penyesalan dalam hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: