Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah

Berdasarkan pemakaiannya, bahasa memiliki bermacam-macam ragam sesuai dengan fungsi, kedudukan, serta lingkungannya. Ragam bahasa pada pokoknya terdiri atas ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan terdiri atas ragam lisan baku dan ragam lisan takbaku. Ragam tulis  terdiri atas ragam tulis baku dan ragam tulis takbaku. Bahasa Indonesia baku dipakai dalam karang-mengarang, pembicaraan pada situasi formal, pembicaraan di depan umum, dan pembicaraan di depan orang yang dihormati. Bahasa Indonesia tidak baku dipakai dalam situasi santai. Kedua ragam bahasa itu dapat hidup berdampingan.

EJAAN BAHASA INDONESIA

Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dalam kaidah tulis menulis yang distandarisasikan, yang meliputi pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca.

PEMAKAIAN HURUF

  1. Huruf abjad : abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf : Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq, Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, Zz.
  2. Huruf vocal : a, e, i, o, u.
  3. Huruf konsonan : b, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.
  4. Huruf diftong : ai, au, ai.
  5. Gabungan konsonan : kh, ng, ny, sy.

PENULISAN HURUF KAPITAL

Huruf kapital dipakai sebagai berikut :

  1. Huruf pertama kata pada awal kalimat.
  2. Huruf pertama petikan langsung.
  3. Ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, kitab suci, termasuk kata ganti.
  4. Gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
  5. Nama jabatan, pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
  6. Huruf pertama unsur-unsur nama orang.
  7. Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
  8. Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa bersejarah.
  9. Huruf pertama nama geografi.
  10. Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata depan atau kata hubung.
  11. Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
  12. Huruf pertama nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata depan dan kata hubung yang berada di tengah kata.
  13. Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
  14. Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai sapaan.
  15. Huruf pertama kata ganti Anda.

PENULISAN HURUF BERCETAK MIRING

  1. Menuliskan nama buku, majalah, koran.
  2. Menuliskan istilah asing, daerah, ilmiah yang ditulis dengan ejaan aslinya.
  3. Menegaskan huruf, kata, atau frasa yang dipentingkan/dikhususkan.

PENULISAN KATA

A. Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis terpisah (berdiri sendiri)

Contoh : Siswa itu rajin.

B. Kata Turunan

  1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contoh : bergetar, tulisan, penerapan, memperhatikan.
  2. Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan unsur yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Contoh : bertumpang tindih, mengambil alih.
  3. Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. Contoh : menggarisbawahi, pertanggungjawaban.
  4. Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai (a, antar, catur,maha, mono, multi, pra, pasca, semi ,dsb). Contoh : amoral, antar negara, caturwarga, mahasiswa, multiguna, prasejarah, pascasarjana, semifinal.
  5. Bila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang didahului oleh huruf kapital, di antara kedua unsur itu diberi tanda hubung. Contoh : non-Indonesia

C. Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung.

Contoh : buku-buku, gerak-gerik.

D. Gabungan Kata

  1. Gabungan kata / kata majemuk ditulis terpisah. Contoh : orang tua, Rumahsakit.
  2. Gabungan kata yang mungkin menimbulkan makna ganda, diberi tanda hubung. Contoh : anak-istri ( anak dan istri), buku -sejarah baru (buku sejarah yang baru), buku sejarah- baru (sejarahnya baru).
  3. Gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kesatuan ditulis serangkai. Contoh : halalbihalal, manakala, barangkali, olahraga, kacamata, darmasiswa, apabila, padahal, matahari, dukacita, manasuka, kilometer, bilamana, daripada, peribahasa, segitiga, sukacita, saputangan.

E. Kata Ganti

Kata ganti ku, mu, nya, kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya atau mendahuluinya., kecuali pada Mu dan Nya yang mengacu pada Tuhan harus ditulis dengan huruf kapital dan diberi tanda hubung (-).

Contoh : Nasihat orang tua harus kauperhatikan

Anakku, anakmu, dan anaknya sudah menjadi anggota perkumpulan itu.

O, Tuhan kepada-Mulah hamba meminta pertolongan.

F. Kata Depan

Kata depan di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali yang sudah dianggap sebagai satu kesatuan seperti kepada dan daripada.

Contoh : Di mana ada gula, di situ ada semut.

Pencuri itu keluar dari pintu belakang.

Mahasiswa itu akan berangkat ke luar negeri.

G. Kata Sandang

Kata si , sang, hang, dang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh : Muhammad Ali dijuluki petinju “si Mulut Besar”.

H. Partikel

  1. Partikel lah, kah, tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.  Contoh : Pergilah sekarang!
  2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Contoh : Jika engkau pergi, aku pun akan pergi. Kata-kata yang sudah dianggap padu ditulis serangkai, seperti andaipun, ataupun, bagaimanapun, kalaupun, walaupun, meskipun, sekalipun.
  3. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, ‘tiap’ ditulis terpisah. Contoh : Mereka masuk satu per satu.

I. Singkatan dan Akronim

Singkatan :

  • Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan jabatan atau pangkat diikuti tanda titik. Contoh : Suman Hs.
  • Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik. Contoh : DPR GBHN KTP PT
  • Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Contoh : dll. hlm. sda. Yth.
  • Lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, mata uang tidak diikuti tanda titik. Contoh : Cu , cm, kg, Rp

Akronim :

  • Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Contoh : ABRI, LAN, IKIP, SIM
  • Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Contoh : Akabri, Bappenas, Iwapi, Kowani
  • Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Contoh : pemilu, rapim, tilang.

J. Angka dan Lambang Bilangan

  • Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut :

Contoh :

  1. Abad XX dikenal sebagai abad teknologi.
  2. Abad ke-20 dikenal sebagai abad teknologi.
  3. Abad kedua puluh dikenal sebagai abad teknologi.
  • Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang dipakai berturut-turut.

Contoh :

  1. Ada sekitar lima puluh calon mahasiswa yang tidak diterima dperguruan tinggi itu.
  2. Kendaraan yang beroperasi di Bandung terdiri atas 1.000 becak, angkot, 100 metro mini, dan 100 bus kota.
  • Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat di awal kalimat.

Contoh :

  1. Dua puluh mahasiswa mendapat beasiswa dari perusahaan itu.
  2. #150 orang pegawai mendapat pneghargaan dari pemerintah.(salah)
  3. Sebanyak 150 orang pegawai mendapat penghargaan pemerintah.

PEMAKAIAN TANDA BACA

A. Tanda titik dipakai :

  1. Pada akhir kalimat.
  2. Pada singkatan nama orang.
  3. Pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
  4. Pada singkatan atau ungkapan yang sangat umum.
  5. Di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, dan daftar.
  6. Untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu.
  7. Untuk memisahkan angka jam, menit, detik yang menunjukkan jangka waktu.

B. Tanda titik tidak dipakai :

  1. Untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
  2. Dalam singkatan yang terdiri atas huruf–huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga–lembaga nasional atau internasional, atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
  3. Di belakang alat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.

C. Tanda koma dipakai :

  1. Di antara unsur–unsur dalam suatu perincian dan pembilangan.
  2. Untuk memisahkan kalimat setara.
  3. Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat.
  4. Di belakang kata seru yang terdapat pada awal kalimat.
  5. Di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat.
  6. Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain.
  7. Di antara unsur-unsur alamat yang ditulis berurutan.
  8. Untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya.
  9. Di antara nama orang dan gelar akademik.
  10. Di muka angka persepuluhan.
  11. Untuk mengapit keterangan tambahan, atau keterangan aposisi.

D. Tanda titik koma dipakai :

  1. Untuk memisahkan bagian–bagian kalimat yang sejenis dan setara.
  2. Untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

E. Tanda titik dua dipakai :

  1. Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
  2. Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
  3. Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan.
  4. Kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
  5. Di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab – kitab suci, atau di antara judul dan anak judul suatu karangan (karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup : Sebuah Studi, sudah terbit).

F. Tanda hubung (-) dipakai :

  1. Untuk menyambung suku–suku kata dasar yang terpisah karena pergantian baris.
  2. Untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya.
  3. Menyambung unsur–unsur kata ulang.
  4. Menyambung huruf kata yang dieja.
  5. Untuk memperjelas hubungan bagian–bagian ungkapan.
  6. Untuk merangkaikan se- dengan angka, angka dengan –an, singkatan huruf  besar dengan imbuhan atau kata.
  7. Untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

G. Tanda pisah (–) dipakai :

  1. Untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi pelajaran (kemerdekaan bangsa itu – saya yakin akan tercapai – diperjuangkan oleh).
  2. Untuk menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas (Rangkaian penemuan ini – evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom – telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta).
  3. Di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’ atau di antara nama dua kota yang berarti ‘ke’ atau sampai (1945 – 1950 :Bandung – Jakarta).

H. Tanda elipsis (. . .) dipakai :

  1. Untuk menggambarkan kalimat yang terputus, misalnya : Kalau begitu … ya, marilah kita berangkat.
  2. Untuk menunjukan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan :, misalnya : Sebab-sebab kemerosotan . . . akan diteliti lebih lanjut.

I. Tanda petik (‘. . .’) dipakai :

  1. Mengapit petikan langsung.
  2. Mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai dalam kalimat.
  3. Mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal.

J. Tanda petik tunggal (‘…’) dipakai :

  1. Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan petikan lain, misalnya : Tanya basri, “Kaudengar bunyi ‘kring – kring tadi’?
  2. Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing, misalnya : rate of inflation ‘laju inflasi’.

K. Tanda garis miring (/) dipakai :

  1. Dalam penomoran kode surat, misalnya : No. 7/ PK/ 1983.
  2. Sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat, misalnya : mahasiswa / mahasiswi, hanya Rp 30,00 / lembar, Jalan Banteng V / 6.

L. Tanda penyingkat atau apostrop (‘) dipakai :

Menunjukkan penghilangan bagian kata.

Misalnya : Amin ‘kan kusurati (‘kan =akan) Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)

TATA KALIMAT

Kalimat ialah suatu bagian ujaran yang berdiri sendiri dan bermakna dan diakhiri oleh intonasi akhir. Sebuah kalimat sekurangkurangnya memiliki subjek dan predikat.

CIRI-CIRI UNSUR KALIMAT

Salah satu syaratnya adalah kelengkapan unsur kalimat, yaitu subjek, predikat, objek, keterangan, pelengkap.

  1. Subjek : Subjek dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan siapa atau apa predikat. Contoh: Mahasiswa mengerjakan tugas makalah.
  2. Predikat : Predikat dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan bagaimana atau mengapa subjek. Contoh: Mahasiswa menyusun skripsi.
  3. Objek: Objek dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Objek hanya terdapat pada kalimat yang predikatnya berupa kata kerja transitif. Contoh: Mahasiswa itu mengemukakan masalahnya. Masalahnya dikemukakan oleh mahasiswa itu.
  4. Pelengkap: Pelengkap tidak dapat menjadi subjek sebab tidak dapat dipasifkan. Contoh: Mereka belajar matematika dengan sungguh-sungguh.
  5. Keterangan: Posisi keterangan dapat berpindah-pindah di depan, tengah, atau akhir kalimat. Contoh: Mereka belajar di perpustakaan.

JENIS KARYA ILMIAH

Jenis-jenis karya ilmiah dapat dibedakan atas berikut :

A. Makalah

Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan permasalahan dan pembahasannya berdasarkan data di lapangan atau kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif.

B. Kertas kerja

Kertas kerja adalah karya tulis ilmiah yang bersifat lebih mendalam daripada makalah dengan menyajikan data di lapangan atau kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif. Makalah sering ditulis untuk disajikan dalam kegiatan penelitian dan tidak untuk didiskusikan, sedangkan kertas kerja ditulis untuk disajikan dalam seminar atau lokakarya.

C. Laporan Praktik Kerja

Laporan praktik kerja adalah karya tulis ilmiah yang memaparkan data hasil temuan di lapangan atau instansi perusahaan tempat kita bekerja. Jenis karya ilmiah ini merupakan karya ilmiah untuk jenjang diploma III (DIII).

D. Skripsi

Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain (karya ilmiah S I). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar sarjana skripsi (langsung (observasi lapangan),tidak langsung (studi kepustakaan)).

E. Tesis

Tesis adalah karya tulis ilmiah yang mengungkapkan pengetahuan baru dengan melakukan pengujian terhadap suatu hipotesis. Tesis ini sifatnya lebih mendalam dari skripsi (karya ilmiah S II). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar magister.

F. Disertasi

Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan teori atau dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta secara empiris dan objektif (karya ilmiah S III). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar doktor.

KARAKTERISTIK KARYA ILMIAH

1. Mengacu kepada teori

Artinya karangan ilmiah wajib memiliki teori yang dijadikan sebagai landasan berpikir / kerangka pemikiran / acuan dalam pembahasan masalah.

Fungsi teori :

  1. Tolak ukur pembahasan dan penjawaban persoalan.
  2. Dijadikan data sekunder / data penunjang ( data utama ; fakta ).
  3. Digunakan untuk menjelaskan, menerangkan, mengekspos dan mendeskripsikan suatu gejala.
  4. Digunakan untuk mendukung dan memperkuat pendapat penulis.

2. Berdasarkan fakta

Artinya setiap informasi dalam kerangka ilmiah selalu apa adanya, sebenarnya dan konkret.

3. Logis

Artinya setiap keterangna dalam kerangka ilmiah selalu dapat ditelusuri, diselidiki dan diusut alasan-alasannya, rasional dan dapat diterima akal.

4. Objektif

Artinya dalam kerangka ilmiah semua keterangan yang diungkapkan tidak pernah subjektif, senantiasa faktual dan apa adanya, serta tidak diintervensi oleh kepentingan baik pribadi maupun golongan.

5. Sistematis

Baik penulisan / penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah disajikan secara rutin, teratur, kronologis, sesuai dengan prosedur dan sistem yang berlaku, terurut, dan tertib.

6. Sahih / Valid

Artinya baik bentuk maupun isi karangan ilmiah sudah sah dan benar menurut aturan ilmiah yang berlaku.

7. Jelas

Artinya setiap informasi dalam karangan ilmiah diungkapkan sejernih-jernihnya, gamblang, dan sejelas-jelasnya sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dan keraguan-raguan dalam benak pembaca.

8. Seksama

Baik penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah dilakukan secara cermat, teliti, dan penuh kehati-hatian agar tidak mengandung kesalahan betapa pun kecilnya.

9. Tuntas

Pembahasan dalam karangan ilmiah harus sampai ke akar-akarnya. Jadi, supaya karangan tuntas, pokok masalah harus dibatasi tidak boleh terlalu luas.

10. Bahasanya Baku

Bahasa dalam kerangka ilmiah harus baku artinya harus sesuai tidaknya penggunaan bahasa.

11. Penulisan sesuai dengan aturan standar (nasional / internasional)

Akan tetapi, tata cara penulisan laporan penelitian yang berlaku di lembaga tempat penulis bernaung tetap harus diperhatikan.

LANGKAH-LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH

1. Persiapan

a. Pemilihan Topik

Cara memilih topik yang baik dalam karya ilmiah adalah sebagai berikut :

a).    Topik itu sudah dikuasai.

b).   Topik itu paling menarik perhatian.

c).    Topik itu ruang lingkupnya terbatas.

d).   Data itu objektif.

e).    Memiliki prinsip-prinsip ilmiah (ada landasan teori atau teori-teori sebelumnya.

f).     Memiliki sumber acuan.

b. Penentuan Judul

Cara menulis judul adalah dengan menentukan kerangka karangan dengan pembatasan topik.

Contoh :

topik                : perkantoran

masalah apa   : kepegawaian

mengapa        : pengawasan

di mana          : Pemda Jawa Barat

waktu              : tiga bulan

kajian              : praktik/penerapan

Catatan : Syarat judul yang baik adalah sebagai berikut:

  1. harus bebentuk frasa,
  2. tanpa ada singkatan atau akronim,
  3. awal kata harus huruf kapital kecuali preposisi dan konjungsi,
  4. tanpa tanda baca di akhir judul karangan,
  5. menarik perhatian,
  6. logis, dan
  7. sesuai dengan isi.

Jika ada kata kerja atau predikat dalam judul karangan, kata kerja tersebut harus diubah menjadi kata benda.

mengawas  menjadi pengawasan

berfungsi menjadi fungsi atau jadi peranan

bermanfaat menjadi pemanfaatan

c. Penulisan Kerangka Karangan

Kerangka karangan adalah pengelompokan dan pengamatan jenis fakta dan sifatnya menjadi kesatuan yang bertautan.

Contoh :

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Pembatasan Masalah

1.3 Tujuan Penelitian

1.4 Kerangka Teori

1.5 Sumber Data

1.6 Sistematika Penulisan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 …

2.2 …

BAB III METODE PENELITIAN DAN KAJIAN

3.1 …

3.2 …

BAB IV ANALISIS DATA

4.1 …

4.2 …

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 …

5.2 …

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN DATA

2. Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

  1. Mencari informasi/data dari kepustakaan.
  2. Menyusun daftar angket.
  3. Melakukan wawancara.
  4. Melakukan pengamatan di lapangan.
  5. Melakukan percobaan di laboratorium.

3. Penyusunan Data

Penyusunan data dapat diartikan menyeleksi, mengolah, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik-teknik atau metode yang telah ditentukan.

4. Pengetikan

Setelah data disusun lalu diadakan pengetikan data (penelitian).

5. Pemeriksaan

Pemeriksaan data (penelitian) dapat dilakukan melalui tahapan penerapan bahasa berikut :

  1. penyusunan paragraf,
  2. penerapan kalimat baku,
  3. penerapan diksi/pilihan kata, dan
  4. penerapan EYD.

Sumber :

pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/…/agus_buku_ajar.pdf

inparametric.com/bhinablog/download/Bahasa1W.pdf

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: